PM10 dan PM2,5 Lampaui Baku Mutu, Alarm Bagi Warga
PENAKALTENG, Muara Teweh – Konsentrasi partikulat PM10 dan PM2,5 di Kabupaten Barito Utara yang melampaui baku mutu menjadi alarm bagi kesehatan masyarakat. DPRD meminta warga meningkatkan kewaspadaan sekaligus mendorong pemerintah daerah memperkuat pemantauan dan langkah perlindungan.
Anggota DPRD Barito Utara H Taufik Nugraha mengatakan kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele karena paparan partikulat dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
“Kita tentu prihatin dengan hasil pemantauan kualitas udara yang menunjukkan PM10 dan PM2,5 berada di atas baku mutu. Ini harus menjadi perhatian bersama, terutama untuk menjaga kesehatan masyarakat,” ujar Taufik di Muara Teweh, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan hasil pengujian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Barito Utara, konsentrasi PM10 tercatat 246,08 mikrogram per meter kubik, jauh di atas baku mutu 24 jam sebesar 75 mikrogram per meter kubik. Sementara PM2,5 mencapai 318,81 mikrogram per meter kubik, dibandingkan baku mutu 55 mikrogram per meter kubik.
Taufik meminta pemerintah daerah terus memantau kualitas udara secara berkala dan menjadikan hasil pemantauan sebagai dasar dalam menentukan langkah antisipasi. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
“Kalau kualitas udara sedang tidak baik, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak. Gunakan masker dan perhatikan kondisi kesehatan, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan,” katanya.
Menurutnya, perbaikan kualitas udara tidak cukup hanya dengan melindungi masyarakat dari paparan asap, tetapi juga harus menyasar sumber pencemar, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pencegahan karhutla perlu diperkuat agar kondisi udara tidak semakin memburuk.
“Kita harus memperkuat pencegahan karhutla. Jangan ada pembakaran lahan secara sembarangan. Kalau kebakaran terus terjadi, dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat melalui penurunan kualitas udara,” tegasnya.
Taufik berharap pemerintah, aparat dan masyarakat memperkuat upaya pencegahan karhutla serta menjaga kesehatan selama kualitas udara belum membaik.
“Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas. Kita berharap kondisi ini segera membaik dan seluruh pihak mengambil peran,” pungkasnya. (bvs)