DPRD Palangka Raya Ingatkan Dampak BBM Non Subsidi

PENAKALTENG, Palangka Raya – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berpotensi berdampak luas bagi perekonomian masyarakat, mulai dari meningkatnya inflasi hingga terganggunya daya beli. Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, menilai kenaikan BBM non subsidi tentu akan berimbas pada masyarakat dan pelaku UMKM.

“Terus terang saya kaget dengan kenaikan BBM jenis Pertamax yang sangat tinggi dari sebelumnya sekitar Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Ini pasti berdampak besar bagi masyarakat dan akan dirasakan secara menyeluruh,” ucapnya, Jumat (12/6/2026).

Khemal melihat, selisih harga yang cukup jauh antara Pertamax dan Pertalite berpotensi memicu lonjakan permintaan terhadap BBM bersubsidi. Kondisi ini dapat menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU. Ia memperkirakan dampaknya akan berpengaruh terhadap distribusi kebutuhan pokok di Kota Palangka Raya, yang sebagian besar pasokannya berasal dari luar daerah.

“Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat masyarakat akan berlomba-lomba mencari Pertalite. Dampaknya tentu luar biasa dan kita bisa kembali melihat antrean panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi,” tuturnya.

Khemal menambahkan, sekitar 90 persen kebutuhan pokok masyarakat Kota Palangka Raya masih didatangkan dari luar daerah. Sehingga kenaikan biaya transportasi berpotensi mendorong naiknya harga berbagai komoditas.

Politisi Partai Golkar tersebut mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan bersama-sama menjaga situasi keamanan serta ketertiban di tengah kondisi ekonomi yang dinilai cukup berat. (ss).